Senin, 01 Agustus 2022

3 Alasan Kenapa Wanita Harus Berpendidikan Tinggi dalam Keluarga


MANGGUMEDIA.COM -- Wanita dengan pendidikan tinggi sekarang ini masih saja dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Salah satu alasannya mungkin karena adanya anggapan bahwa gelar sarjana hanya diperuntukkan untuk mencari pekerjaan.

Padahal bagi wanita, gelar sarjana bisa menjadi dua bagian yang bermanfaat di masa depannya. Pertama dia bisa menjadi wanita mandiri dan kedua dia bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya.

Meskipun seorang suami adalah pemimpin keluarga, namun peran seorang ibu tidak bisa lepas dari kepengurusan di dalam sebuah keluarga. Bahkan bisa dibilang bahwa ibu adalah tolok ukur dari baik tidaknya sebuah keluarga. Untuk mengetahui lebih jauh, di bawah ini telah disajikan 3 alasan kenapa wanita harus berpendidikan tinggi.

  

1. Memiliki Keluarga yang Berkualitas

Wanita yang memiliki pendidikan tinggi tahu bagaimana cara membina keluarganya agar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dia akan selalu menjaga komunikasi dengan keluarga, menjaga nama baik keluarga dan pandai membagi waktu ketika sudah berumah tangga. Kemampuan wanita yang seperti inilah yang akan membuahkan keluarga yang berkualitas dan bahagia.

2. Nyaman Diajak Berbicara

Kita bisa melihat bagaimana kualitas hubungan seseorang dengan melihat bagaimana komunikasi yang mereka jalani. Seorang wanita berpendidikan tinggi dalam hal ini tentu akan lebih mudah dan nyaman diajak berkomunikasi.


 Dia mampu memilih dan memilah mana pembicaraan yang baik untuk diutarakan dan mana yang tidak. Dia akan senantiasa setia mendengarkan dan berbicara dengan kelemahlembutan. Wanita seperti ini mampu mengimbangi lawan bicaranya termasuk pasangan hidup.

3. Guru Terbaik Bagi Anak-Anak

Seorang wanita yang memiliki pendidikan tinggi tidak hanya menjadi seorang ibu namun mampu menjadi guru terbaik bagi anak-anak. Dia akan senantiasa membimbing dan mendukung setiap perjalanan hidup sang anak. Mengajarkan hal yang baik dan menasihati sebagaimana sosok ibu sekaligus guru pertama anak.



Artikel Tentang Perempuan yang perlu Kamu baca:


Rabu, 27 Juli 2022

Langkah-langkah Proses Manajemen Risiko

 


MANGGUMEDIA.COM --Di dalam manajemen risiko, ada Langkah-langkah yang harus diperhatikan dan diambil oleh seorang pengambil keputusan atau stakeholders di dalam perusahaan dalam menangani sebuah risiko. Langkah tersebut yaitu Langkah identifikasi risiko, analisa risiko, pengelolaan risiko, implementasi manajemen risiko, dan Langkah monitoring risiko.

1. Langkah Identifikasi Risiko

Proses ini meliputi identifikasi kerugian yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitas. Aspek penting dalam identifikasi risiko adalah mendaftar kemungkinan kerugian yang mungkin terjadi sebanyak mungkin.

Teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko antara lain :

a. Brainstorming

b. Survei

c. Wawancara

d. Informasi historis

e. Kelompok kerja

2. Langkah Analisa Risiko

Tahap selanjutnya adalah mengukur risiko (measurement) dengan cara melihat sebarapa besar terjadinya severity (kerusakan) dan probabilitas terjadinya risiko tersebut. Pada tahap ini sangat penting untuk menentukan dugaan yang terbaik agar nantinya dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan manajemen risiko.

BACA JUGA:

Komponen Manajemen Risiko

3. Langkah Pengelolaan Risiko

Pengelolaan risiko yang baik akan memberikan dampak positif terhadap pencegahan kerusakan yang terjadi akibat ketidakpastian.

Jenis-jenis untuk mengelola risiko, di antaranya :

a. Risk avoidance adalah untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung risiko sama sekali

b. Risk reduction adalah metode yang mengurangi kemungkinan terjadinya suatu risiko atau mengurangi dampak kerusakan yang dihasilkan oleh suatu risiko

c. Risk transfer adalah risiko kepada pihak lain.

d. Risk deferral adalah meliputi menunda aspek suatu proyek sehingga saat dimana probabilitas terjadinya risiko tersebut kecil.

e. Risk retention adalah risiko tertentu dapat dihilangkan dengan cara mengurangi maupun mentransfer, namun beberapa risiko harus tetap diterima sebagai bagian penting dari aktivitas.


4. Langkah Implementasi Manajemen Risiko

Proses implementasi risiko adalah tahap dimana strategi dan semua perencanaan dilaksanakan. Yang terpenting adalah harus memberikan keputusan untuk memilih mana yang akan ditetapkan untuk diimplementasikan.

 5. Langkah Monitoring Risiko

Penting untuk melakukan monitoring proses dari awal, dimulai dari identifikasi risiko dan pengukuran risiko untuk mengetahui keefektifan respon yang telah dipilih serta untuk mengidentifikasi adanya risiko baru yang mungkin akan muncul bahkan perubahan respon.

Sumber Bacaan: 

Jumat, 22 Juli 2022

Komponen Manajemen Risiko

 


MANGGUMEDIA.COM -- Ada beberapa komponen atau tahapan dalam proses manajemen risiko perusahaan, yaitu:

1. Sasaran Penilaian Risiko

Risk assessment adalah penilaian suatu risiko dengan cara membandingkannya terhadap tingkat atau kriteria risiko yang telah ditetapkan. Penilaian risiko juga bisa diartikan sebagai suatu proses pemeriksaan keamanan dengan suatu struktur tertentu, pembuatan suatu rekomendasi khusus, dan rekomendasi pengambilan keputusan dalam suatu proyek dengan menggunakan analisis risiko, perkiraan risiko, dan informasi lain yang memiliki potensi untuk mempengaruhi keputusan.

Penilaian risiko dilakukan setelah analisis risiko dilakukan. Analisis risiko diperlukan untuk menganalisis seberapa besar risiko yang akan terjadi. Setelah analisis risiko dilakukan, selanjutnya adalah menilai risiko tersebut, apakah risiko tersebut termasuk risiko besar atau kecil. Sebelum sumber risiko diriset, Anda perlu menentukan sasaran objektif kenapa risk assessment dilakukan. Beberapa contoh sasarannya misalnya mencegah fraud, melindungi perusahaan dari piutang tak tertagih, dan sebagainya.

2. Lingkungan yang Berpotensi Memunculkan Risiko

Setiap divisi dalam bisnis Anda punya jenis risiko berbeda-beda, sehingga Anda juga perlu menyiapkan strategi manajemen risiko perusahaan yang beragam pula.

BACA JUGA: 

Definisi Risiko Menurut Para Ahli

3. Identifikasi Peristiwa Penyebab Risiko

Setelah menentukan lingkungan sumber risiko, berikutnya adalah mengidentifikasi peristiwa penyebab risiko tersebut terjadi. Misalnya, risk assessment di area produksi. Kemungkinan peristiwa penyebab risiko di area produksi misalnya kecelakaan kerja, kesalahan pengolahan bahan baku, dan sebagainya.

4. Valuasi Jenis Risiko

Menentukan valuasi atau leveling dari tiap jenis risiko yang ada merupakan komponen yang penting dalam manajemen risiko. Valuasi ini dapat Anda putuskan berdasarkan dua hal, yaitu frekuensi terjadinya dan tingkat kerugian. Berdasarkan frequency, jenis risiko adalah:

a. Kemungkinan sering terjadi (most probable)

b. Kemungkinan terjadi (probable)

c. Kemungkinan kadang terjadi (fair)

d. Kemungkinan kecil terjadi (slight)

e. Kemungkinan tidak terjadi (improbable)

 

Program Beasiswa Tahun 2022 Khusus Mahasiswa Tingkat Akhir. Daftar!

Berdasarkan tingkat kerugian atau severity-nya, jenis risiko yaitu:

 a. Bencana (catastrophic)

b. Kerugian tinggi (high loss)

c. Kerugian sedang (medium loss)

d. Kerugian rendah (low loss)

e. Dapat diabaikan (negligible)

 

5. Pengambilan Keputusan Atas Risiko

Proses pengambilan keputusan merupakan salah satu komponen manajemen risiko yang keberadaannya sangat penting. Setelah jenis risiko dan valuasinya ditemukan, perusahaan bisa membuat kebijakan atau mengambil tindakan sesuai jenis risiko tersebut. Beberapa keputusan yang bisa diambil dari proses manajemen risiko perusahaan misalnya mengawasi, memindahkan, atau langsung melenyapkan sumber risiko.

6. Dokumentasi Proses Manajemen Risiko

Meski saat ini sudah ditangani, ada kemungkinan risiko mengalami relapse atau terjadi lagi di masa depan. Oleh karena itu, perusahaan perlu membuat dokumentasi untuk tiap penanganan risiko yang dilakukan.

7. Menginformasikan Risiko pada Stakeholder

Proses manajemen risiko perusahaan idealnya perlu diketahui setiap stakeholder bisnis Anda, minimal stakeholder yang berkaitan langsung dengan risiko. Penginformasian risiko ini bisa dilakukan melalui rapat koordinasi atau penyerahan dokumentasi penanganan risiko pada stakeholder terkait.

 Dalam COSO ERM, manajemen risiko memiliki beberapa komponen dan proses di dalamnya, yaitu:

1. Lingkungan internal (internal environment)

2. Penentuan sasaran (objective setting).

3. Identifikasi peristiwa (event identification).

4. Penilaian risiko (risk assessment)

5. Informasi dan komunikasi (information and communication)

6. Pemantauan (monitoring)

Demikianlah penjelasan lengkap tentang pengertian komponen manajemen risiko. Manajemen risiko adalah salah satu aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari proses bisnis. Pastikan Anda terus mempelajarinya. 


Sumber Bacaan: 

Gatot Iwan Kurniawan dan Mirza H YunelineManajemen Risiko (Bandung: Penerbit Manggu Makmur Tanjung Lestari, 2019)

Artikel Terkait Lainnya:

Kamis, 21 Juli 2022

Sejarah Perkembangan Sistem Desentraliasi pada Masa Demokrasi Terpimpin

 


MANGGUMEDIA.COM -- Lahirnya masa demokrasi terpimpin ditandai dengan keluarnya dekrit presiden 5 Juli 1959. Dengan adanya dekrit presiden tersebut menandakan bahwa UUDS 1950 tidak berlaku lagi dan kembali ke UUD 1945. Dengan demikian, kekuasaan pemerintahan berada pada presiden, sistem presidensial kembali berlaku. Artinya, kewenangan presiden dalam mengatur pemerintahan sangat penuh dan besar.

Dengan kewenangan yang dipegangnya, Presiden Sukarno kemudian menetapkan undang-undang operasional pemerintah menjadi revolusioner dengan berbagai simbol-simbol perjuangan, seperti manifesto politik.

BACA JUGA:

Pengertian Desentralisasi Fiskal

Untu mencapai tujuan politiknya, Presiden Sukarno melakukan konsolidasi secara internal melalui penyesuaian-penyesuaian struktur pemerintahan dari pusat sampai daerah. Dalam konteks konsolidasi tersebut, Presiden Sukarno kemudian menerbitkan dua peraturan, yaitu Penetapan Presiden No. 6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No. 5 Tahun 1960.

Salah satu Penetapan Presiden yang mendapatkan perhatian dari Presiden Sukarno adalah mereposisi hubungan pusat dan daerah. Yakni, mencabut UU No. 1 Tahun 1957 dan menetapkan Penerapan Presiden No. 6 Tahun 1959 dan No. 5 Tahun 1960. Salah satu alasan yang menjadi pertimbangan adalah UU No. 1 Tahun 1957 dianggap produk  undang-undang yang lahir dari sistem yang liberal dan kenyataannya tidak sesuai dengan kehidupan politik yang berkembang dalam kontek demokrasi terpimpin.

 


Referensi:

Rabina Yunus, Sistem Keuangan Daerah (Bandung: PenerbitManggu Makmur Tanjung Lestari, 2021)

Daftar di sini!

Artikel Terkait Lainnya:

Selasa, 19 Juli 2022

Pengertian Manajemen Risiko yang Harus Anda Ketahui Agar Bisnis Lancar

 


MANGGUMEDIA.COM - Manajemen risiko sebagai salah satu aktivitas terpenting dalam bisnis. Bagi Anda yang sedang dan akan menjalankan bisnis, tentu perlu sekali untuk mempelajari manajemen risiko. Jangan lupa untuk mempelajarinya. Karena, itu untuk kepentingan Anda sendiri.

Sebelum mengurai mengenai pengertian manajemen risiko, tentu terlebih dahulu Anda harus mengetahui apa itu manajemen. Karena, dari pengertian manajemen risiko, ada dua kosa kata sekaligus komponen. Yaitu, kata/komponen “manajemen” dan “risiko”. Keduanya memiliki pengertian dan makna yang berbeda dengan tujuan dan maksud yang berbeda.

BACA JUGA:

Tujuan Manajemen Risiko

Manajemen adalah sebagai suatu tindakan yang dilakukan. Tujuannya, memaksimalkan sumber daya yang ada hingga bisa mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Tindakan yang dimaksud adalah tindakan yang dimulai dari masukan (input), proses, hingga menghasilkan suatu luaran (output).

Menurut Stoner J.A.F., manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian kegiatan anggota organisasi dengan menggunakan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Intinya, manajemen berkaitan dengan proses keilmiahan yang berkaitan dengan tahapan: merumuskan suatu masalah, membuat model penyelesaian masalah, mengukur dan mendapatkan hasil dari suatu masalah, dan menghasilkan model dan hasil yang didapat.

Sementara pengertian risiko secara harfiah adalah potensi terjadinya sesuatu yang berdampak buruk, baik bagi diri sendiri atau suatu entitas usaha. Sedangkan menurut Gatot Iwan Kurniawan dan Mirza H. Yuneline, risiko adalah suatu kejadian di masa yang akan datang akibat dari kondisi ketidakpastian yang memberikan dampak kerugian/negatif bagi yang mengalaminya sebagai bentuk dari proses pengambilan keputusan saat ini.

PROGRAM BEASISWA 2022: KLIK DI SINI!

Dari pengertian kedua komponen di atas, bisa dipahami bahwa komponen tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan kita. Karena, masing-masing komponen memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Manajemen merupakan sistem atau model pengelolaan terhadap kegiatan yang dilakukan. Sehingga, model atau sistem pengelolaan yang dimaksud dapat memperlancar kegiatan dan mudah dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Sedangkan risiko merupakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam suatu kegiatan atau tindakan yang diambil. Sehingga, ketika risiko tersebut mampu kita prediksi dengan baik, kegiatan dan hasil yang diinginkan akan berjalan mulus dan risiko yang mungkin terjadi bisa diatasi atau diminimalisir dengan baik.

Ketika dua komponen tersebut disatukan menjadi suatu kalimat, yaitu manajemen risiko, memiliki makna khas atau khusus. Manajemen yaitu sistem pengelolaan kegiatan. Risiko yaitu kemungkinan suatu kejadian atau hasil negatif dari akibat tindakan yang dilakukan. Secara sederhana, manajemen risiko yaitu sistem pengelolaan kegiatan terhadap kemungkinan-kemungkinan suatu kejadian atau hasil negatif yang diakibatkan dari suatu aktivitas atau tindakan yang dilakukan. Manajemen risiko bisa juga diartikan bahwa sistem pengelolaan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dari tindakan yang dilakukan. Terutama kemungkinan yang bersifat negatif.

LOMBA NULIS ARTIKEL

Menurut Milton C Regan, manajemen risiko adalah penerapan beragam kebijakan dan prosedur untuk meminimalisasi peristiwa yang menurunkan kapasitas dan kualitas kerja perusahaan. Sementara itu, menurut Noshworthy, manajemen risiko adalah usaha mengurangi risiko dalam proses pelaksanaan teknis dan pengambilan keputusan bisnis.

Intinya, manajemen risiko adalah sebuah proses mengawasi, mengelola, dan mengambil keputusan guna menghindari risiko kerugian atau inefisiensi bisnis.

Demikianlah penjelasan lengkap tentang pengertian manajemen risiko. Manajemen risiko sebagai salah satu aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari proses bisnis. Pastikan Anda terus mempelajarinya ya!


Referensi: Gatot Iwan Kurniawan dan Mirza H. Yuneline, Manajemen Risiko; Penerbit Manggu Makmur Tanjung Lestari, Bandung


Artikel Terkait Lainnya:


Kamis, 07 Juli 2022

Komunikasi Asertif dalam Kepemimpinan


MANGGUMEDIA.COM
-- Asertif merupakan keterampilan dalam berkomunikasi. Artinya, sikap mampu mengekspresikan diri tapi tetap menghormati dan menjaga perasaan orang lain. Komunikasi asertif adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dengan kata lain, asertif adalah kemampuan mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan secara langsung, jujur, terhormat, dan tidak mengganggu hak orang lain. 

Mengekspresikan diri kita dengan tegas dan positif sebagai salah satu contoh dari perilaku asertif. Ekspresi tersebut tanpa maksud mengalah dan juga menyerang orang lain. "I Message" merupakan kunci utama dalam berkomunikasi asertif. Dalam menyampaikan perasaan, pikiran, atau opini selalu mengedepankan "I Message." Sehingga, tidak ada satu orang pun di sekitarnya yang dapat menghambatnya untuk berkomunikasi. 

BACA JUGA: 

Unsur Dan Manfaat Komunikasi Asertif

Sikap kepemimpinan asertif, seorang pemimpin dituntut untuk jujur terhadap dirinya sendiri dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhannya secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun merugikan pihak lainnya. 

Ciri seorang pemimpin yang sudah menerapkan perilaku asertif, yaitu: pertama, mampu untuk berkata "tidak". Kedua, mampu meminta pertolongan. Ketiga, mampu untuk mengekspresikan perasaan positif dan negatif secara wajar. Keempat, mampu berkomunikasi tentang hal-hal yang bersifat umum. 

LOMBA NULIS ARTIKEL

Perilaku asertif itu sangat diperlukan agar seorang pemimpin lebih mengenal diri dan lebih jujur dalam membina hubungan dengan bawahannya. Melalui asertivitas yang dimiliki seorang pemimpin, pemimpin dapat belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan orang lain, mengekspresikan perasaan positif dan negatif, percaya diri, mau mendengarkan bawahannya, mengembangkan kontrol diri, mengembangkan kemampuan untuk menolak tanpa merasa bersalah, dan berani meminta bantuan bawahannya ketika membutuhkan. 

Program Beasisa Penerbit Manggu tahun 2022

Kepemimpinan asertif adalah seorang pemimpin dituntut untuk tahu alasan-alasan mengapa dirinya menolak atau menerima pernyataan orang lain. Jadi, pemimpin tahu akibat dan sebab dari sesuatu yang akan dilakukannya. Menerapkan kepemimpinan asertif tidak membuat keinginan seorang pemimpin serta-merta diterima oleh bawahannya. Namun, lewat kepemimpinan asertif ini, seorang pemimpin dapat belajar untuk berpikir logis dan belajar memahami teman.

Ada tiga karakteristik kepemimpinan asertif, yaitu: pertama, sifatnya lebih tegas dan mempunyai perhatian yang sangat besar pada pengendalian personal. Kedua, lebih terbuka dalam konflik dan kritik. Ketiga, pengambilan keputusan muncul dari proses argumentasi dengan beberapa sudut pandang sehingga muncul kesimpulan yang memuaskan. 



ARTIKEL LAINNYA:

Kamis, 30 Juni 2022

Peranan Sektor Pertanian dalam Perekonomian

 


MANGGUMEDIA.COM -- Telah lama disadari oleh para pemikir ekonomi pembangunan peran sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia. Sektor pertanian memiliki peranan yang besar dalam perekonomian, terutama di tahap-tahap awal pembangunan. Pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian harus didorong secara signifikan. Hal ini tentu berimbas pada pendapatan yang sangat besar. Berimbas pula pada kesejahteraan para petani. Ini semua sebagai prasyarat untuk memulai proses transformasi ekonomi.

Masalah pangan yang selalu dihadapi oleh negara-negara berkembang menjadi permasalahan utama dalam pembangunan dan pengembangan ekonomi. Apabila negara tersebut mampu mengatasi kendala tersebut, pembangunan sektor nonpertanian sudah bisa dipastikan akan berkembang dengan baik. Namun sebaliknya, apabila kendala tersebut masih ada, jangan harapkan sektor nonpertanian akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Artinya, pertumbuhan ekonomi di sektor nonpertanian akan terus terhambat apaila masalah pangan tidak bisa diatasi dengan baik. Impor pangan merupakan salah satu alternatif mengatasi masalah tersebut, tetapi keterbatasan devisa menjadikannya alternatif yang mahal.

BACA JUGA: Penjaga Tatanan Negara Indonesia (Petani)

Transformasi ekonomi akan dapat terwujud dengan baik dan sempurna, apabila sektor pertanian yang dinamis dan tumbuh dengan cepat. Kondisi tersebut adalah kondisi yang diinginkan untuk mendorong transformasi ekonomi.

Peran pertanian dalam mewujudkan transformasi ekonomi sangat penting, apalagi pada masa awal transformasi ekonomi. Ada beberapa cara transformasi ekonomi melalui pertanian, yaitu: pertama, tumbuhnya sektor pertanian dengan cepat, akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk di pedesaan. Pada gilirannya, dapat meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor nonpertanian.

Awardee Beasiswa Penerbit Manggu 2022

Pertumbuhan permintaan akan terjadi pada produk-produk untuk konsumsi akhir. Selain itu, produk-produk sektor nonpertanian yang digunakan petani sebagai input usaha tani ataupun untuk investasi akan tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kedua, pembangunan agroindustri efek dari pertumbuhan sektor pertanian. Industri yang mengolah bahan baku primer yang dihasilkan pertanian adalah agroindustri yang ikut berkembang. Salah satu contoh dari agroindustri yang berkembang adalah industri pangan, tekstil, minuman, obat-obatan, dan industri bahan bakar nabati. Belum lagi perkembangan dan pertumbuhan agroindustri di bagian hulu. Ini juga ikut akan ikut tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satunya adalah industri yang menyediakan input penting bagi pertanian, seperti industri pupuk, obat dan pestisida, maupun industri mesin pertanian.

UDAH DAPET UNDIAN UANG 500 RIBU TIAP BULAN? KLIK INI!

Tumbuh dan berkembangnya agroindustri, berpengaruh terhadap semakin tumbuhnya infrastruktur, baik di pedesaan maupun perkotaan. Selain itu, dengan tumbuh dan berkembangnya agroindustri, juga akan semakin meningkatnya kemampuan manajerial sumber daya manusia.

Ketiga, kemajuan teknologi terapan di sektor pertanian, akan mewujudkan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Efek nyata bagi sektor nonpertanian adalah menjadi sumber tenaga kerja yang relatif murah.

Keempat, naiknya pendapatan penduduk pedesaan karena adanya dorongan dari pertumbuhan sektor pertanian. Salah satu dari naiknya pendapatan penduduk di pedesaan adalah akan meningkatkan tabungan. Tabungan tersebut merupakan sumber modal untuk membiayai pembangunan sektor nonpertanian.

SUKA NULIS ARTIKEL TENTANG PERTANIAN? IKUTI PROGRAM INI, DAPATKAN HADIAH UANG TUNAI

Faktor lainnya perlu dipenuhi agar pertumbuhan sektor pertanian juga secara efektif mampu menjadi pendorong pertumbuhan di sektor nonpertanian, yaitu: pertama, adanya kebijakan yang lebih terbuka. Kedua, terbentuknya pasar kredit dan perbankan yang efisien. Ketiga, terbangunnya infrastruktur pedesaan yang mencukupi dan berkualitas untuk menghubungkan daerah pedesaan dengan pasar output maupun input. Keempat, manfaat dari pertumbuhan sektor pertanian terdistribusi dengan baik.

Salah satu syarat untuk pertumbuhan sektor pertanian yang equitable adalah distribusi tanah beserta hak kepemilikan atau penguasaan yang lebih merata.

 


Yopi Imanuel Ismeil, Teknik dan Strategi Penyuluhan PertanianEra Kreatif ( Bandung: MangguMakmur Tanjung Lestari, 2019)


ARTIKEL LAINNYA: