Mahasiswa KKN Terpapar Cinta Lokasi? Antara Pengabdian dan Perasaan

Kuliah Kerja Nyata, atau yang lebih dikenal dengan KKN, biasanya identik dengan pengabdian ke masyarakat: mengajar anak-anak desa, bikin program kerja, sampai ikut ronda malam. Tapi ada satu fenomena klasik yang hampir selalu muncul setiap musim KKN: cinta lokasi.


Awalnya sih biasa saja. Hari pertama masih sibuk kenalan satu tim. Hari kedua mulai bagi tugas. Hari ketiga mulai sering rapat. Nah, hari keempat biasanya mulai muncul kalimat legendaris: “Kita bahas program kerja sambil ngopi aja, biar santai.” Padahal yang santai bukan cuma rapatnya, tapi juga mulai santai ngobrol berdua.

Cinta lokasi saat KKN sebenarnya bukan hal aneh. Bayangkan saja: tinggal satu rumah, makan bareng, survei lokasi bareng, bahkan kadang naik motor boncengan keliling desa. Intensitas pertemuan yang tinggi itu sering bikin orang yang awalnya cuma teman satu kelompok berubah jadi “teman tapi perasaan”.

Belum lagi kalau ada momen-momen dramatis khas KKN. Misalnya hujan deras saat pulang dari survei program, lalu berteduh di warung. Atau saat listrik desa mati dan semua mahasiswa duduk di teras sambil cerita masa depan. Dari situ biasanya muncul obrolan filosofis yang ujung-ujungnya jadi obrolan perasaan.

Tapi cinta lokasi KKN juga punya reputasi unik. Banyak yang bilang hubungan ini punya dua kemungkinan: berlanjut serius atau hilang setelah penarikan. Maklum, setelah KKN selesai semua kembali ke kampus masing-masing, jadwal kuliah padat lagi, dan kadang jarak juga ikut memisahkan.

Meski begitu, kisah cinta lokasi tetap jadi bumbu yang membuat pengalaman KKN lebih berwarna. Bahkan banyak alumni yang kalau reuni KKN bukan cuma mengenang program kerja, tapi juga mengenang siapa yang dulu sering pura-pura rapat padahal sebenarnya lagi PDKT.

Jadi kalau nanti ada mahasiswa yang pulang dari KKN sambil senyum-senyum sendiri, jangan langsung curiga. Bisa jadi program kerjanya sukses… atau bisa juga hatinya yang berhasil “terprogram”. 😄

0 Komentar