Pertanyaan ini biasanya muncul setiap kali ada demo sepi, diskusi publik yang pesertanya cuma panitia, atau ketika pamflet kritis kalah likes sama postingan “open PO hoodie angkatan”.
Dulu, mahasiswa dikenal sebagai makhluk idealis. Katanya.
Sekarang, mahasiswa lebih dikenal sebagai makhluk realistis:
realistis soal IPK, realistis soal lulus cepat, dan sangat realistis soal “nanti aja, lagi capek.”
Bukan berarti mahasiswa hari ini bodoh atau apatis. Mereka pintar—bahkan sangat pintar. Pintar membaca situasi. Pintar memilih diam. Pintar menimbang:
“Kalau gue ribut, untungnya apa?”
Jawabannya sering nihil, kecuali bonus capek dan risiko dipanggil dosen kemahasiswaan.
Idealisme pun mengalami redefinisi.
Dulu: turun ke jalan.
Sekarang: retweet dengan caption “🔥🔥🔥”.
Dulu: diskusi sampai pagi.
Sekarang: save dulu, baca nanti (tidak pernah).
Bahkan mahasiswa idealis masih ada—mereka hanya bersembunyi dengan baik. Biasanya muncul di tongkrongan jam 1 pagi, setelah kopi keempat. Saat itu, semua sepakat sistem bermasalah, negara perlu dibenahi, dan kampus harus berani. Sayangnya, idealisme ini ikut pulang bareng tukang kopi keliling.
Bukan salah mahasiswa sepenuhnya. Sistem juga ikut mendewasakan idealisme secara paksa.
Beasiswa harus aman.
Magang harus jalan.
LinkedIn harus rapi.
CV tidak boleh ada jejak “terlalu kritis”.
Akhirnya, idealisme dipelihara seperti tanaman hias: ada, tapi jangan disiram berlebihan. Takut layu kariernya.
Namun, sesekali, idealisme itu muncul lagi. Biasanya saat UKT naik, parkiran ditutup, atau WiFi kampus mati. Di situlah mahasiswa bersatu, lantang, dan kompak. Ternyata idealisme masih hidup—hanya perlu pemicu yang sangat relevan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Jadi, masih adakah mahasiswa idealis?
Ada.
Mereka cuma sedang magang, sibuk skripsi, atau menunggu waktu yang “lebih tepat”.
Dan mungkin, idealisme hari ini bukan soal seberapa keras berteriak, tapi seberapa lama bertahan agar tidak sepenuhnya lupa cara bertanya.

0 Komentar