Mahasiswa Membeli Buku, Pentingkah?

Di sebuah kosan yang kipas anginnya bunyinya kayak helikopter mau lepas landas, seorang mahasiswa rebahan sambil scrolling marketplace. Bukan cari buku, tentu saja. Cari headset diskon, kaos estetik, atau mungkin kopi literan biar bisa begadang ngerjain tugas. Lalu muncul pertanyaan klasik yang selalu menggelitik dompet dan nurani: mahasiswa itu penting nggak sih beli buku?

Jawaban singkatnya: penting. Jawaban panjangnya: penting banget, kecuali kamu percaya ilmu bisa pindah lewat WiFi kosan.


Buku buat mahasiswa itu ibarat GPS di tengah hutan kurikulum. Tanpa buku, kamu tetap bisa jalan, tapi peluang nyasarnya lebih besar. Banyak yang bilang, “Ngapain beli buku, kan ada PDF?” Betul, ada. Tapi mari jujur sebentar. PDF seringnya dibuka, di-scroll dikit, lalu ditinggal demi notifikasi chat grup. Buku fisik punya aura yang beda. Dia diem, tapi menuntut perhatian. Nggak ada tombol mute buat halaman yang menatapmu sambil bilang, “Ayo baca, jangan rebahan mulu.”

Masalahnya bukan soal format semata, tapi soal komitmen. Ketika mahasiswa membeli buku, ada proses pengambilan keputusan. Ada niat belajar yang diseriusi dengan uang jajan yang rela dikorbankan. Itu beda rasanya dengan klik unduh lalu lupa password folder. Buku yang dibeli cenderung dibaca, dicoret-coret, dikasih sticky notes warna-warni, dan—kalau beruntung—dipinjemin ke temen yang akhirnya nggak balikin. Tapi setidaknya ilmu sempat mampir.

Mereka yang bangga bilang, “Gue nggak pernah beli buku kuliah, tapi IPK aman.” Keren, bro. Tapi aman hari ini belum tentu relevan besok. Ilmu itu bukan cuma buat lulus, tapi buat bertahan. Buku melatih kesabaran, fokus, dan kebiasaan berpikir runut. Tiga hal yang susah dilatih kalau belajarnya cuma dari ringkasan dua halaman hasil copas entah dari mana.

Ada juga yang beralasan buku mahal. Ini valid, dompet mahasiswa memang sering diet ketat. Tapi mahal itu relatif. Harga satu buku sering setara dua kali nongkrong kopi kekinian. Bedanya, kopi habis dalam dua jam, buku bisa ngasih efek jangka panjang. Kalau kopi bikin deg-degan, buku bikin pikiran kebuka. Pilihan ada di tangan, mau jantung berdebar atau wawasan bertambah.


Di era serba cepat, membeli buku juga jadi bentuk perlawanan kecil terhadap budaya serba instan. Buku mengajarkan bahwa memahami sesuatu butuh waktu. Nggak semua jawaban ada di caption. Nggak semua teori bisa diringkas jadi satu thread. Mahasiswa yang terbiasa baca buku biasanya lebih siap menghadapi diskusi, lebih kritis, dan nggak gampang panik saat ditanya dosen, “Pendapat kamu apa?”

Lucunya, banyak yang anti beli buku tapi rajin beli barang lain demi “self-reward”. Padahal membeli buku juga self-reward, cuma levelnya naik dikit. Ini hadiah buat versi dirimu di masa depan. Versi yang lebih paham, lebih pede, dan nggak cuma mengandalkan “menurut saya” tanpa dasar.

Jadi, pentingkah mahasiswa membeli buku? Kalau tujuan kuliahmu cuma lulus, mungkin tidak terlalu. Tapi kalau kamu pengin tumbuh, berpikir lebih dalam, dan punya bekal selain titel, buku itu teman setia. Dia nggak bakal nge-judge kamu telat paham, nggak bakal marah kalau kamu ulang halaman, dan selalu siap dibuka kapan pun kamu mau berubah.

Buat yang masih ogah beli buku, santai aja. Dunia nggak runtuh. Tapi jangan heran kalau suatu hari kamu sadar, ternyata investasi terbaik waktu kuliah bukan sepatu terbaru atau gadget terkini, melainkan satu rak buku yang diam-diam membentuk cara berpikirmu.

#MahasiswaMembaca #BeliBukuItuPenting #LiterasiMahasiswa #AnakKampus #SatirKampus #BukuBukanBeban #KuliahCerdas

0 Komentar