Ada satu momen yang bisa bikin jantung mahasiswa langsung olahraga kardio tanpa pemanasan: layar HP nyala, muncul notifikasi, dan tertulis nama dosen. Bukan mantan. Bukan gebetan. Tapi dosen. Detik itu juga, senyum hilang, napas ditahan, dan pikiran langsung lompat ke skenario terburuk.
Padahal kalau mantan nge-chat, reaksinya paling cuma, “Oh, dia lagi.” Tapi kalau dosen? HP langsung ditaruh, diambil lagi, ditaruh lagi, sambil mikir, “Dibuka sekarang atau nunggu mental siap dulu, ya?”
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Notifikasi dosen sering datang membawa beban emosional yang berat. Bisa soal revisi tugas, deadline yang “diundur ke hari ini”, atau pesan singkat tapi maknanya panjang banget. Kalimat seperti “Silakan ke ruangan saya besok” terdengar sederhana, tapi efeknya bisa bikin mahasiswa susah tidur semalaman. Padahal belum tentu dimarahin, tapi otak sudah keburu bikin film horor sendiri.
Berbeda dengan mantan yang efeknya makin ke sini makin hambar, notifikasi dosen justru makin semester makin menegangkan. Apalagi kalau chat-nya masuk malam hari. Bukannya mikir romantis, mahasiswa malah mikir, “Kenapa beliau online jam segini?” Lalu panik sendiri sambil buka ulang tugas yang sudah dikumpulkan, nyari kesalahan yang bahkan belum tentu ada.
Takutnya mahasiswa terhadap notifikasi dosen juga ada hubungannya dengan posisi. Mantan pernah setara, bahkan mungkin pernah diperjuangkan. Dosen? Pemegang nilai, penentu kelulusan, penjaga gerbang masa depan. Salah baca pesan, salah respon, atau telat bales lima menit saja rasanya kayak bikin dosa akademik. Sementara ke mantan, read doang juga sudah cukup.
Di sisi lain, mahasiswa hidup dalam dunia yang penuh deadline dan ekspektasi. Setiap notifikasi dosen terasa seperti alarm pengingat bahwa masih ada tugas, tanggung jawab, dan target yang belum selesai. Makanya wajar kalau nama dosen di layar HP terasa lebih mengintimidasi daripada nama orang yang dulu pernah bikin sakit hati.
Lucunya, banyak mahasiswa yang akhirnya punya kebiasaan aneh. Chat dosen dibaca pelan-pelan, diulang berkali-kali, bahkan dianalisis bareng teman. “Menurut lu, ini maksudnya marah nggak?” Sebuah pesan dua baris bisa berubah jadi diskusi satu jam, lengkap dengan teori dan asumsi. Mantan? Tinggal di-skip, hidup lanjut.
Semua ini menunjukkan satu hal sederhana: mahasiswa bukan takut sama orangnya, tapi takut sama konsekuensinya. Notifikasi dosen identik dengan nilai, revisi, dan realita akademik yang kadang kejam. Sedangkan mantan, ya… paling cuma kenangan. Tidak menentukan lulus atau tidak.
Pada akhirnya, ketakutan ini adalah bagian dari kehidupan kampus yang absurd tapi nyata. Selama masih jadi mahasiswa, notifikasi dosen akan selalu punya efek lebih besar daripada chat siapa pun. Dan mungkin, itu juga tanda bahwa mahasiswa sedang berjuang serius dengan masa depannya, meski sering dibungkus dengan panik berlebihan dan humor receh.
#Mahasiswa #CeritaKampus #NotifikasiDosen #LifeAsStudent #HumorMahasiswa #RealitaKampus #AnakKuliah


0 Komentar