Kalau ada satu sosok di kampus yang sering dianggap “makhluk gaib”, jawabannya hampir pasti dosen pembimbing skripsi. Bukan karena serem, tapi karena susah ditemui. Chat dibaca lama, dibalas singkat. Janji bimbingan hari ini, realisasinya entah di semester mana. Dari sinilah lahir pertanyaan klasik anak tingkat akhir: kenapa sih dosen pembimbing skripsi susah dikejar? Yuk kita bahas dengan santai, biar hati nggak makin panas.
Pertama, dosen itu bukan NPC kampus yang kerjanya cuma nunggu mahasiswa bimbingan. Mereka punya segudang aktivitas yang kadang nggak kelihatan dari sudut pandang anak skripsi. Ngajar di beberapa kelas, rapat yang undangannya suka datang mendadak, penelitian, pengabdian masyarakat, sampai urusan administrasi yang panjangnya bisa ngalahin daftar revisi Bab 3. Jadi saat mahasiswa ngerasa “kok dosen saya ngilang?”, bisa jadi beliau lagi dikejar deadline juga, cuma versinya lebih mahal.
Kedua, jumlah mahasiswa bimbingan sering kali nggak masuk akal. Satu dosen bisa pegang belasan sampai puluhan mahasiswa skripsi. Bayangin satu orang harus baca puluhan Bab 1 yang isinya mirip-mirip tapi tetap harus teliti. Salah satu aja lolos typo, bisa jadi bahan diskusi di sidang. Jadi wajar kalau dosen butuh waktu buat respon, meski di sisi mahasiswa rasanya kayak nunggu balasan chat gebetan yang online tapi nggak ngetik-ngetik.
Ketiga, ritme kerja dosen dan mahasiswa itu beda alam. Mahasiswa biasanya produktif tengah malam, ngerjain skripsi sambil ditemani kopi dan lagu galau. Begitu kelar, langsung kirim file jam 01.47 dini hari dengan harapan besok pagi dibales. Sementara dosen punya jam hidup yang lebih “normal”. Jadi jangan kaget kalau chat baru dibalas dua hari kemudian dengan kalimat legendaris: “Nanti kita atur waktu ya.” Yang artinya bisa besok, bisa bulan depan, tergantung semesta.
Keempat, ada juga faktor selektif, tapi bukan jahat. Dosen pembimbing kadang sengaja bikin mahasiswa lebih mandiri. Bukan karena males, tapi karena skripsi itu ujian mental dan tanggung jawab. Kalau semua dituntun dari nol, nanti pas sidang mahasiswa malah bengong. Jadi saat dosen terlihat “dingin”, bisa jadi itu metode pendidikan versi dewasa. Walau tetap saja, di hati mahasiswa: Pak/Bu, minimal centang biru juga nggak apa-apa.
Selain itu, komunikasi yang kurang jelas juga sering bikin dosen terkesan susah dikejar. Chat terlalu panjang kayak curhat, atau terlalu singkat tanpa konteks. Dosen juga manusia, bisa bingung kalau tiba-tiba dapat pesan “Pak, gimana?” tanpa file, tanpa penjelasan. Akhirnya chat tenggelam di antara ratusan pesan lain. Dari sini lahir pelajaran hidup: skripsi itu bukan cuma soal teori, tapi juga soal cara komunikasi yang sopan dan efektif.
Meski begitu, hampir semua mahasiswa skripsi pasti pernah ada di fase menyebalkan ini. Nunggu balasan sambil overthinking, takut salah, takut kelamaan, takut wisuda cuma jadi wacana. Tapi percayalah, kebanyakan dosen pembimbing sebenarnya peduli. Mereka cuma sibuk, sangat sibuk. Dan ketika akhirnya bisa bimbingan, sering muncul kalimat pamungkas yang bikin campur aduk: “Ini sebenarnya sudah bagus, tinggal diperbaiki sedikit.” Sedikit versi dosen, panjang versi mahasiswa.
Jadi, kenapa dosen pembimbing skripsi susah dikejar? Bukan karena nggak mau, tapi karena waktu, beban kerja, dan ritme hidup yang beda. Tugas mahasiswa adalah tetap sabar, konsisten, dan jangan menyerah cuma gara-gara chat belum dibalas. Skripsi memang menguji akademik, tapi juga menguji kesabaran tingkat dewa. Kalau sudah lolos fase ini, percaya deh, mental kamu naik level.
Punya pengalaman berbeda? yuk, komentar di sini!
#skripsilife
#anakskripsi
#dosenpembimbing
#mahasiswagalau
#pejuangskripsi
#kampuslife
#satirankampus
#menujuwisuda


0 Komentar