Kenapa Dosen Pembimbing Skripsi Susah Dikejar? (Versi Dosen, Biar Fair)

Dari sisi mahasiswa, dosen pembimbing sering terlihat kayak legenda urban: ada namanya, pernah ketemu, tapi susah dipastikan keberadaannya. Nah, sekarang kita putar kamera ke sisi satunya. Versi dosen. Bukan buat pembelaan sepihak, tapi biar ceritanya imbang dan nggak cuma satu pihak yang terzolimi secara batin.

Buat dosen, skripsi itu bukan satu-satunya isi hidup. Dalam satu minggu, jadwal bisa penuh dari pagi sampai sore dengan ngajar di beberapa kelas, lalu disambung rapat yang judulnya kadang lebih panjang dari abstrak skripsi. Belum lagi kewajiban penelitian dan pengabdian masyarakat yang kalau nggak jalan, karier akademik bisa mandek. Jadi saat dosen belum sempat bales chat bimbingan, sering kali bukan karena nggak peduli, tapi karena otaknya lagi penuh tab browser kehidupan.

Masalah lain yang sering terjadi adalah jumlah mahasiswa bimbingan. Satu dosen bisa pegang banyak mahasiswa sekaligus, dan semuanya merasa skripsinya paling urgent. Dari sudut pandang dosen, ini seperti membaca banyak cerita dengan tema mirip tapi harus tetap teliti, kritis, dan adil. Salah satu saja luput, dampaknya bukan cuma ke mahasiswa, tapi juga ke reputasi akademik. Jadi proses membaca dan memberi masukan itu butuh waktu, bukan sekadar “lihat sekilas lalu ACC”.

Soal chat yang dibaca tapi nggak langsung dibalas, ini sering jadi dosa sosial paling besar di mata mahasiswa. Padahal, dosen kadang baca pesan di sela-sela aktivitas, lalu berniat membalas dengan jawaban yang matang. Sayangnya, niat itu kadang ketimpa rapat, ketimpa kelas, lalu ketimpa lupa. Bukan ghosting, lebih ke ketimbun realita. Dan ya, dosen juga manusia, bukan sistem auto-reply.

Ada juga faktor gaya komunikasi. Dari sisi dosen, pesan mahasiswa yang terlalu singkat tanpa konteks bikin bingung, sementara pesan yang terlalu panjang bisa bikin waktu baca membengkak. Idealnya memang ketemu di tengah, tapi proses menuju “tengah” ini sering penuh salah paham. Mahasiswa mikir dosen cuek, dosen mikir mahasiswa kurang siap. Padahal dua-duanya lagi capek di versi masing-masing.

Menjadi dosen pembimbing juga berarti ikut bertanggung jawab atas kualitas lulusan. Karena itu, dosen nggak bisa asal cepat demi mengejar waktu. Lebih baik lama tapi matang, daripada cepat tapi skripsinya rapuh saat diuji. Dari sini sering muncul kesan “dipersulit”, padahal niat awalnya justru biar mahasiswa nggak tumbang di sidang. Ironisnya, usaha melindungi ini sering terlihat seperti menghilang.


Pada akhirnya, kenapa dosen pembimbing skripsi susah dikejar versi dosen? Karena waktu mereka terbagi ke banyak tanggung jawab, dan skripsi mahasiswa adalah salah satu yang penting, tapi bukan satu-satunya. Kalau mahasiswa berjuang mengejar wisuda, dosen juga berjuang menjaga kualitas akademik. Jadi mungkin solusinya bukan saling kesal, tapi saling paham. Mahasiswa tetap konsisten dan sopan, dosen berusaha responsif sebisanya. Di tengah semua itu, skripsi pelan-pelan jalan, dan drama kampus tetap jadi cerita nostalgia setelah wisuda.

#dosenpembimbing
#versidosen
#skripsilife
#kampuslife
#akademik
#pejuangskripsi
#ceritakampus

0 Komentar