Di dunia perkuliahan, IPK sering diposisikan seperti mahkota. Semakin tinggi angkanya, semakin dianggap sukses hidupnya. Mahasiswa dengan IPK 3,7 ke atas sering dipuji, dijadikan contoh, bahkan dianggap “aman masa depannya”. Padahal, di balik senyum tipis saat pembagian nilai, ada banyak mahasiswa yang pulang ke kos sambil mikir, “Kok gue capek banget ya hidup?”
Fenomena IPK tinggi tapi mental drop bukan cerita langka. Justru semakin sering terjadi, hanya saja jarang dibicarakan. Mahasiswa terlihat baik-baik saja di kelas, aktif saat presentasi, rajin mengerjakan tugas, tapi malamnya overthinking sambil menatap laptop dan bertanya-tanya kapan terakhir kali tidur cukup. IPK naik terus, tapi semangat hidup rasanya stuck di semester awal.
Tekanan sering datang dari ekspektasi. Begitu nilai bagus menempel di nama seseorang, lingkungan langsung menaikkan standar. Dosen berharap lebih, teman sering minta bantuan, keluarga bangga setengah mati, dan tanpa sadar mahasiswa itu dipaksa untuk selalu “hebat”. Kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar. Salah jawab sekali saja, rasanya kayak meruntuhkan citra “anak pintar” yang susah payah dibangun.
Di titik ini, perfeksionisme mulai mengambil alih. Tugas tidak boleh asal, presentasi harus sempurna, skripsi harus terasa seperti penelitian kelas dunia. Akibatnya, mahasiswa jadi sulit berhenti. Bahkan saat istirahat pun otaknya tetap kerja, memikirkan revisi, deadline, dan nilai. Ironisnya, orang lain melihatnya sebagai privilege. “Enak ya lu pinter,” kata mereka, tanpa tahu bahwa kepala orang pintar ini isinya deadline semua.
Banyak mahasiswa akhirnya menggantungkan harga diri pada angka IPK. Saat nilainya bagus, hidup terasa valid. Saat nilainya turun sedikit saja, muncul rasa bersalah yang berlebihan. Padahal, satu nilai tidak pernah bisa mendefinisikan seluruh kemampuan seseorang. Sayangnya, sistem pendidikan dan budaya kampus sering lupa mengingatkan hal itu. Mahasiswa didorong untuk kuat, tapi jarang diajak jujur tentang lelah.
Masalah ini bukan berarti IPK itu tidak penting. IPK tetap punya peran, terutama untuk urusan akademik dan peluang tertentu. Namun ketika IPK menjadi satu-satunya ukuran kesuksesan, mahasiswa perlahan kehilangan ruang untuk bernapas. Kesehatan mental sering dikorbankan demi angka, seolah stres adalah syarat wajib untuk disebut berprestasi. Padahal, tidak semua perjuangan harus dibayar dengan kelelahan ekstrem.
Sudah saatnya realita ini dibicarakan tanpa rasa malu. Mahasiswa berprestasi juga bisa lelah, bisa cemas, dan bisa butuh bantuan. Mengakui capek bukan tanda lemah, justru tanda sadar diri. Karena pada akhirnya, IPK bisa dicetak ulang di kertas, tapi mental yang rusak butuh waktu lama untuk pulih.
Menjadi mahasiswa seharusnya bukan hanya tentang mengejar nilai, tapi juga belajar mengenal diri sendiri. Belajar kapan harus berjuang, dan kapan harus berhenti sebentar untuk istirahat. Karena hidup setelah wisuda tidak hanya menuntut kepintaran, tapi juga ketahanan mental yang sehat.
#IPKTinggi #MentalDrop #MahasiswaIndonesia #RealitaKampus #KesehatanMental #CeritaMahasiswa #LifeAsStudent


0 Komentar