Putus Cinta Pas Mau Sidang Skripsi: Ujian Mental Selain Revisi


Ada momen dalam hidup mahasiswa yang rasanya kayak dikasih dua cobaan sekaligus tanpa aba-aba. Yang satu namanya sidang skripsi, yang satu lagi… putus cinta. Kalau dua-duanya datang barengan, selamat: kamu resmi naik level ke ujian mental tertinggi anak kampus.

Putus cinta pas mau sidang skripsi itu bukan cuma soal patah hati. Ini soal pikiran yang harusnya fokus ke presentasi, tapi malah keinget chat terakhir yang cuma dibaca doang. Slide PowerPoint isinya teori dan metodologi, tapi kepala muter di satu pertanyaan klasik: “Kurang gue di mana, sih?”

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, hidup sebenarnya lagi penuh tekanan. Skripsi belum tentu aman, dosen penguji masih misterius, dan kalender isinya tanggal-tanggal yang bikin deg-degan. Di tengah kondisi itu, hubungan yang selama ini jadi tempat pulang malah bubar jalan. Rasanya kayak kehilangan charger pas baterai tinggal 3%.

Hari-hari menjelang sidang jadi aneh. Siang pura-pura kuat ngerjain revisi, malam overthinking sambil muter lagu galau yang katanya “cuma nemenin nugas.” Padahal mah bohong. Setiap buka laptop, yang ke-refresh bukan semangat, tapi kenangan. Nama mantan masih kepikiran, sementara nama dosen penguji aja kadang lupa.

Ironisnya, putus cinta pas mau sidang skripsi sering datang dengan kalimat-kalimat sok dewasa. “Aku nggak mau ganggu fokus kamu.” “Kamu lagi butuh lulus, bukan hubungan.” Kalimatnya terdengar bijak, tapi efeknya tetap sama: dada sesak dan konsentrasi ambyar. Bijak di mulut, brutal di hati.

Yang bikin tambah nyesek, skripsi nggak peduli kamu habis nangis semalaman. Dia tetap minta dikerjain. Metodologi tetap harus dipertanggungjawabkan, dan penguji tetap bakal nanya dengan wajah datar seolah hidupmu baik-baik saja. Dunia akademik kejam, tapi konsisten.

Ada momen lucu tapi sedih saat kamu latihan sidang di depan kaca, lalu tiba-tiba berhenti karena kepikiran: dulu dia yang sering dengerin gue latihan. Sekarang? Yang nemenin cuma kopi dingin dan laptop yang kipasnya lebih berisik dari isi kepala sendiri.


Tapi di titik tertentu, kamu sadar satu hal penting. Putus cinta memang menyakitkan, tapi sidang skripsi adalah gerbang hidup berikutnya. Kamu boleh hancur, tapi jangan berhenti. Boleh nangis, tapi jangan menyerah. Banyak yang akhirnya lulus dengan mata sembap dan hati setengah kosong, tapi langkahnya tetap jalan.

Dan anehnya, setelah sidang selesai, setelah penguji bilang “selamat, Anda lulus,” ada rasa lega yang pelan-pelan nutup luka. Bukan karena putus cintanya sembuh total, tapi karena kamu berhasil bertahan di fase paling berat. Kamu lulus bukan cuma dari skripsi, tapi dari versi hidup yang nyaris bikin tumbang.

Putus cinta pas mau sidang skripsi memang bukan cerita yang ingin diulang. Tapi buat banyak mahasiswa, ini jadi kisah yang suatu hari diceritakan sambil ketawa kecil. Tentang betapa dulu hidup terasa berat, tapi ternyata bisa dilewati juga.

Kalau kamu lagi ada di fase ini, satu hal yang perlu diingat: cinta bisa pergi, tapi gelar sarjana tinggal selangkah lagi. Selesaikan dulu apa yang harus kamu perjuangkan. Urusan hati bisa menyusul. Atau minimal, bisa kamu ceritakan nanti sebagai plot twist hidup yang bikin kamu lebih kuat.


#PutusCinta #SidangSkripsi #MahasiswaTingkatAkhir #PejuangSkripsi #AnakKampus #PatahHatiTapiLulus #CeritaMahasiswa

0 Komentar