Pacar Ketahuan Selingkuh Pas Mau Sidang Akhir: Plot Twist Paling Kejam Anak Kampus

Nggak ada yang siap menghadapi hari ketika sidang akhir sudah di depan mata, tapi semesta malah nambah ujian baru: pacar ketahuan selingkuh. Ini bukan adegan sinetron sore, ini realita pahit mahasiswa tingkat akhir yang hidupnya lagi di mode bertahan.

Awalnya hari itu biasa aja. Laptop kebuka, slide sidang masih berantakan, kopi udah dingin sejak sejam lalu. Terus satu notifikasi masuk. Bukan dari dosen. Bukan juga reminder sidang. Tapi chat dari teman yang isinya bikin jantung turun ke perut. Screenshot. Nama pacar. Dengan orang lain. Lengkap dengan caption yang nggak bisa lagi dibela pakai kalimat “cuma temen.”

Di titik itu, otak langsung nge-lag. Mau marah, tapi tenaga udah habis buat skripsi. Mau nangis, tapi jam segini harus revisi. Mau pura-pura nggak tahu, tapi dada udah keburu sesak. Pacar selingkuh pas mau sidang akhir itu rasanya kayak jatuh ke lubang yang sama, tapi kali ini sambil bawa beban hidup.

Hubungan yang selama ini dianggap rumah, tiba-tiba runtuh tepat ketika kamu lagi butuh tempat paling aman. Ironisnya, orang yang paling sering bilang “semangat ya, dikit lagi lulus” justru jadi alasan kenapa kamu susah fokus. Setiap buka laptop, yang muncul bukan teori atau data penelitian, tapi wajah orang yang kepercayaannya baru aja hancur.

Malam-malam menjelang sidang jadi terasa lebih panjang. Slide presentasi kelar, tapi pikiran nggak. Kamu rehearse materi sambil nahan air mata, berusaha terdengar profesional padahal hati lagi berantakan. Lucunya, dunia kampus tetap berjalan normal. Dosen penguji nggak tahu kamu habis dikhianati, mereka cuma tahu kamu harus bisa jawab pertanyaan dengan tenang.

Dan di situlah kejamnya fase ini. Selingkuh dan sidang akhir datang barengan, tanpa peduli kesiapan mental. Kamu dipaksa dewasa lebih cepat. Dipaksa milih: tenggelam di rasa sakit atau berdiri walau gemetar. Banyak yang akhirnya milih diam, bukan karena nggak sakit, tapi karena tahu satu hal—gelar sarjana ini harus diselamatkan.

Ada momen ketika kamu bertanya ke diri sendiri, kenapa pengkhianatan datang di saat paling rapuh. Kenapa bukan nanti, setelah semuanya selesai. Tapi hidup jarang adil, dan mahasiswa tingkat akhir jarang punya pilihan selain lanjut jalan. Dengan mata sembap, dengan hati setengah kosong, kamu tetap datang ke ruang sidang membawa skripsi dan sisa-sisa keberanian.

Anehnya, setelah sidang selesai dan kata “lulus” akhirnya keluar, rasa sakit itu nggak langsung hilang. Tapi ada perasaan bangga yang pelan-pelan muncul. Bukan karena hubungan yang gagal, tapi karena kamu berhasil bertahan di fase paling kacau dalam hidup kampus. Kamu lulus bukan cuma dari sidang akhir, tapi dari ujian kepercayaan.

Pacar yang selingkuh mungkin pergi, tapi kamu melangkah ke fase hidup yang baru. Dan suatu hari nanti, cerita ini bukan lagi luka, tapi bukti bahwa kamu pernah kuat di saat semuanya hampir runtuh.

Kalau kamu lagi ngalamin ini sekarang, ingat satu hal penting: pengkhianatan bukan akhir cerita, tapi sidang akhir itu penentu bab berikutnya. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Urusan hati bisa dibereskan nanti, setelah toga di kepala dan beban sedikit berkurang.


#PacarSelingkuh #SidangAkhir #MahasiswaTingkatAkhir #DramaAnakKampus #PejuangSkripsi #PatahHatiTapiLulus #CeritaMahasiswa

0 Komentar