Kereta ekonomi itu berangkat subuh, membawa aku dan ransel tua berisi pakaian, buku tulis, serta harapan yang dilipat rapi. Dari jendela, sawah desa pelan-pelan menghilang, digantikan bangunan beton yang makin rapat. Ibu bilang, “Kalau mau mimpi besar, jangan takut pergi jauh.” Maka aku pergi.
Namaku Raka, anak petani dari desa kecil yang bahkan jarang muncul di peta. Sejak SMA, aku sudah menanam satu cita-cita: kuliah di kota. Bukan karena kota terlihat mewah, tapi karena di sanalah katanya masa depan dibentuk. Atau setidaknya, begitu yang sering kudengar dari radio butut di ruang tamu.
Hari pertama di kota terasa seperti tersesat di dunia lain. Lampu lalu lintas lebih banyak daripada bintang di langit desa. Orang-orang berjalan cepat, seolah waktu selalu mengejar mereka. Aku? Jalan pelan, sambil memastikan dompet masih ada di saku.
Kampus tampak megah. Gedungnya tinggi, mahasiswa lalu-lalang dengan laptop di tangan. Aku menelan ludah. Sepatu kanvasku terasa salah tempat di antara sepatu-sepatu mengilap. Tapi aku menegakkan punggung. Aku ke sini bukan untuk pamer, tapi untuk belajar.
Hari-hari kuliah tidak semudah bayanganku. Uang kiriman sering datang terlambat, mie instan jadi menu utama, dan kamar kos sempit itu sering bocor kalau hujan. Pernah suatu malam aku duduk di lantai, menghitung receh sambil bertanya dalam hati, “Apa aku salah memilih jalan?”
Konflik terbesarku justru datang dari dalam diri sendiri. Aku minder. Di kelas, teman-temanku fasih berbicara, percaya diri menyampaikan pendapat. Aku lebih sering diam, takut salah, takut ditertawakan. Dosen pernah bertanya langsung padaku, dan suaraku nyaris tak keluar.
Namun setiap kali ragu, aku teringat ayah. Tangan kasarnya, bajunya yang selalu bau tanah, dan caranya tersenyum saat mengantarku ke terminal. “Belajar yang rajin. Biar nanti kamu nggak capek seperti Bapak,” katanya waktu itu.
Pelan-pelan, aku bertahan. Aku belajar sampai larut, ikut diskusi meski suara gemetar, dan bekerja paruh waktu di warung kopi. Kota memang keras, tapi juga adil pada mereka yang mau berusaha.
Waktu berlalu. Semester demi semester terlewati. Aku mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota. Bahkan, aku sempat berpikir, mungkin aku sudah berubah. Mungkin desa tak lagi mengenaliku.
Hingga suatu sore, saat hujan mengguyur kampus, aku duduk di perpustakaan sambil menatap layar laptop. Tugas akhirku hampir selesai. Judulnya sederhana: “Pendidikan dan Mobilitas Sosial Anak Desa.” Aku tersenyum kecil. Ironis, sekaligus jujur.
Aku membuka sebuah folder lama di laptop. Di dalamnya ada file berjudul “Untuk Kamu”. Aku membaca ulang isinya, dan di situlah semuanya terasa berbeda.
Tulisan itu bukan tugas kuliah. Itu adalah surat.
Surat yang sejak awal kutulis untuk adikku, Bima, yang masih duduk di bangku SMA di desa. Surat tentang rasa takut di hari pertama, tentang lapar, tentang gagal dan bangkit lagi. Tentang kota yang tidak selalu ramah, tapi penuh pelajaran.
Aku menulisnya tiap kali rindu rumah, tiap kali ingin menyerah. Tanpa sadar, cerita hidupku sendiri menjadi pesan untuk orang lain.
Dan di paragraf terakhir, aku baru ingat mengapa aku menulis semua ini:
“Kalau nanti kamu membaca ini, mungkin aku sudah lulus. Tapi ingat, merantau bukan tentang meninggalkan desa. Ini tentang pulang dengan versi diri yang lebih kuat.”
Aku menutup laptop. Hujan di luar sudah reda. Di kaca jendela, pantulan wajahku terlihat lebih tenang daripada Raka yang dulu naik kereta subuh dengan ransel tua.
Ternyata, sejak awal, perjalananku ke kota bukan hanya untuk mengejar cita-cita sendiri.
Tapi juga untuk membuka jalan, agar mimpi dari desa tak berhenti padaku saja.
Amanatnya sederhana: mimpi boleh membawamu pergi jauh, tapi jangan lupa untuk siapa dan dari mana kamu berangkat.

0 Komentar