Menjadi mahasiswa tingkat akhir itu rasanya kayak main game level hard tanpa tutorial. Di satu sisi ada skripsi yang nggak kelar-kelar, di sisi lain ada urusan asmara yang kadang lebih ribet dari revisi dosen pembimbing. Pertanyaannya: masih sempat pacaran nggak sih pas jadi mahasiswa tingkat akhir? Jawabannya: tergantung hubungan dan mental masing-masing 😌
Asmara mahasiswa tingk
at akhir itu unik. Nggak sepolos cinta anak semester 2 yang masih bucin dan punya waktu luang buat nonton bareng tiap minggu. Di fase ini, cinta sering diuji oleh deadline, mood swing, dan chat yang dibalas 6 jam kemudian dengan alasan klasik: “maaf ketiduran abis ngerjain skripsi.”
Skripsi vs Pacar: Siapa Prioritas?
Konflik paling umum dalam hubungan mahasiswa tingkat akhir adalah soal prioritas. Pacar pengin ditemenin, skripsi pengin diselesaikan. Kalau dua-duanya minta perhatian bersamaan? Ya… siap-siap drama.
Ada tiga tipe pasangan mahasiswa tingkat akhir:
- Support system sejati – yang rela nemenin ke perpustakaan dan bilang, “yang penting kamu lulus.”
- Pasangan setengah ikhlas – bilang support, tapi ngambek pas chat lama dibalas.
- Pasangan ilusi – sering bilang “kerjain skripsi aja,” tapi tiba-tiba hilang kayak data yang belum di-save.
Kalau kamu punya pasangan tipe pertama, tolong dijaga baik-baik. Itu lebih langka dari dosen yang bales chat cepat.
LDR, Ghosting, dan “Kita Fokus Dulu Ya”
Banyak mahasiswa tingkat akhir yang akhirnya LDR karena penelitian, KKN, atau pulang ke kampung halaman. Di sinilah kepercayaan diuji. Chat mulai kering, telpon makin jarang, dan muncul kalimat sakti:
“Kita fokus ke diri masing-masing dulu ya.”
Kalimat ini ambigu. Bisa berarti jeda sehat, bisa juga tanda-tanda soft launching putus. Tapi nggak semua kisah berakhir pahit. Ada juga yang justru makin kuat karena sama-sama capek dan saling ngerti.
Bucin Tapi Realistis
Asmara mahasiswa tingkat akhir cenderung lebih realistis. Ngomongin masa depan, kerja, bahkan nikah—walau masih sama-sama kere. Nggak jarang juga muncul pikiran: “Dia masih cocok nggak ya sama rencana hidup gue?”
Romantisnya bukan lagi soal surprise mahal, tapi:
- Dibikinin kopi pas lembur skripsi
- Diingetin makan
- Ditemenin ke fotokopian jam 10 malam
Sederhana, tapi kerasa banget.
Single di Tingkat Akhir: Sedih Nggak?
Jawabannya: nggak juga. Banyak mahasiswa tingkat akhir yang memilih single demi kewarasan. Fokus lulus, cari kerja, dan memperbaiki hidup. Lagipula, pacaran sambil stres skripsi itu combo yang cukup menantang.
Single bukan berarti sepi. Kadang justru lebih tenang. Nggak ada drama chat, nggak ada debat “kok lama bales,” yang ada cuma debat sama diri sendiri: “gue ngapain sih ambil topik ini?”
Tips Menjaga Asmara di Tingkat Akhir
Biar cinta nggak kandas sebelum sidang, ini beberapa tips ringan tapi berguna:
- Komunikasi jujur: bilang capek, bilang sibuk, jangan menghilang.
- Turunin ekspektasi: waktu ketemu memang berkurang, itu fakta.
- Saling dukung: lulus bareng itu goals yang legit.
- Jangan bandingin: hubungan orang lain di IG belum tentu seindah itu.
Lulus Dulu, Drama Belakangan
Asmara mahasiswa tingkat akhir itu penuh ujian, tapi juga penuh pelajaran. Ada yang berakhir bahagia, ada yang jadi kenangan, ada juga yang cuma jadi cerita lucu pas reuni nanti.
Apapun statusmu—pacaran, LDR, atau single—ingat satu hal penting: skripsi tetap harus selesai. Karena cinta bisa datang lagi, tapi revisi dosen… ya bisa datang lagi juga sih 😭
Semangat, pejuang toga! 🎓
#AsmaraMahasiswa
#MahasiswaTingkatAkhir
#CintaAnakKampus
#SkripsiDanAsmara
#PejuangSkripsi
#AnakAkhir
#CeritaMahasiswa


0 Komentar