Siapa Itu Tuhan, dan Dari Mana Agama?

 


***

Gemerlap lampu di setiap bangunan dan jalanan adalah hal yang biasa jika malam sudah tiba. Selain disambut dengan gemerlapan lampu kendaraan, ia sering disambut dengan obrolan hangat dari para pemuda. Mereka yang sedang berkelana dan istilah kerennya “menemukan jati diri. Di depan sebuah toko yang sudah tutup nampak 3 orang pemuda sedang berkumpul, mereka adalah para mahasiswa yang juga sahabat dari masing-masingnya.

            “Kalian percaya Tuhan?” Asep melontarkan pertanyaan pembuka obrolan. Sebagai pembuka, kiranya bertanya tentang ketuhanan terlalu mendalam. Ah, tapi biarkan saja mereka.

            “Mau tak mau aku harus percaya,” jawab Miftah.

            “Terdengar seperti karena keterpaksaan. Kau percaya karena terpaksa?”

            “Demikian adanya. Sejak lahir kita sudah Islam karena terlahir dari keluarga muslim, istilahnya “Islam turunan”

            “Terus?” tanya Yovian dengan menyela.

            “Dengan itu kita seperti terpaksa mengimani Tuhan. Sejak kecil diajarkan segala macam ibadah, tanpa diberi tahu siapa itu Tuhan. Iya memang dulu juga mengaji di pak ustadz, tapi aku belum menemukan jawaban tentang Allah yang kita anggap sebagai Tuhan”

            “Aku setuju. Dengan terlahir dari keluarga muslim, kita auto jadi Islam. Tapi persoalan mengenal siapa itu Tuhan, kurasa tiap orang berbeda jalan dalam pengembaraannya. Ada yang cukup dengan didikan orang tuanya, lalu ada yang melalui pendidikan di pesantren, atau bahkan yang dipandang bahaya sekali pun seperti atheis lah, atau murtad dulu lah, dan banyak juga yang lainnya,” Asep menanggapi pernyataan Miftah.

            “Hahaha… Kenapa kalian repot-repot mencari Tuhan baru bisa beriman, jika sebenarnya Tuhan itu tidak ada. Atau bagaimana jika kita sendiri adalah Tuhan?

Sembari tertawa Yovian berujar demikian. Terdengar aneh ungkapan tersebut jika dilemparkan pada orang-orang awam.

Buku Kumpulan Puisi Para Penyair Se-Nusantara
   BELI BUKUNYA DI SINI!

            Jalanan malam berangsur sepi dan obrolan mereka sudah mulai dalam topik pembahasannya. Memang pertanyaan tentang Tuhan adalah pertanyaan yang paling menggangu. Mengguncang iman dan  mendatangkan keraguan bagi mereka yang masih awam. Tapi percayalah, hal-hal macam inilah yang mesti dikuatkan oleh setiap insan untuk menjalani kehidupan. Apakah terus-terusan ibadah tanpa mengenal siapa Tuhannya?

             “Ah, sudah bosan aku dengar apa yang kau katakan, Yan!” kata Asep kepada Yovian.

            “Aku juga pernah mendengar kata-kata itu. Terdengar menghujam, menggetarkan, namun tak lebih dari sekadar ungkapan mereka yang sedang berusaha mencari Tuhan,” Miftah menambahkan.

            “Bebaslah, kalian mau katakan apa pun. Tapi bagi orang awam yang mendengarkan ungkapanku kitu, pasti mereka akan sinis dan menganggap kita berbahaya,” Yovian menimpal.

            “Pertanyaan-pertanyaan filosofis dan teologis memang menguras pikiran bahkan bisa menimbulkan keraguan. Tapi jika kita berhasil menemukan arah yang lurus, justru akan mempertebal keimanan.

            “Ya betul Sep. Aku setuju. Ngomong-ngomong tentang Tuhan, ada tesis terkenal dari filsuf Jerman yang menyatakan bahwa rahasia ilmu ketuhanan adalah ilmu tentang manusia. Kajian teologi adalah kajian antropologi. Demikianlah bahwa ya Tuhan itu manusia sendiri gitu.  Namanya siapa ya, aku agak lupa. Ferry... Feur...” ucap Yovian sembari mengingat-ngingat.

            “Feurbach! Lengkapnya Ludwing Andreas Feurbach. Ia berkesimpulan bahwa manusia adalah raja dari segalanya. Dengan itu, ia meniadakan segala hal yang bersangkut paut dengan Tuhan. Tidak ada Tuhan, tidak ada Allah. Yang kita anggap sebagai  Tuhan adalah hasil proyeksi pikiran manusia. Tuhan hanyalah ciptaan dari pemikiran manusia itu sendiri.

            “Edann! Ngeri juga ya,” Asep membalas perkataan tersebut.

            “Keyakinan pada Allah adalah pencitraan pikiran, sifat, dan keinginan manusia yang dilemparkan ke dunia antah-berantah. Allah Maha Tahu hanya keinginan manusia untuk dapat mengetahui segala sesuatu dan Allah ada di mana-mana tiada lain pemuas hasrat manusia yang tak ingin terikat oleh ruang dan waktu. Allah itu kekal, tiada lain dambaan manusia untuk mencapai keabadian. Singkatnya, ilmu tentang Tuhan diobrak-abrik jadi ilmu tentang manusia,Miftah menjabarkan dengan mantap.

            “Hemn, bener Mif. Feurbach dalam kitabnya Das Wesen des Christentums menyatakan bahwa manusia adalah awal dari agama, manusia adalah pusat dari agama. Manusia pun adalah akhir dari agama. Awal karena ya agama dianggap adalah ciptaan manusia juga, segala hal di dalamnya adalah rekaan pemikiran manusia. Pusat agama tiada lain manusia juga karena sebagai umat yang menjalankan agama. Lalu manusia mengakhiri agama, kalo menurutku ya, dengan adanya degradasi nilai-nilai keagamaan. Aturan agama yang katanya telah mereka ciptakan berlandaskan nilai-nilai kebaikan justru mereka sendiri yang melanggarnya. Sehingga agama dicampakkan begitu saja, ia tak dianggap,” Yovian menambahkan setelah ia berhasil menggali file dalam otaknya.

            Asep mengeluarkan sebungkus rokok plat A dari saku jaketnya. Kurang afdol rasanya jika berdiskusi tanpa selingan isapan rokok dan seruputan kopi. Katanya ide dan inspirasi berpikir akan bermunculan jika ritual rokok+kopi dijalankan. Ya, entah siapa yang mecetuskan teori ritual kopi+rokok itu, yang pasti di setiap perkumpulan ritual tersebut tak akan ditinggalkan.

            “Sebagai muslim, kita jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi pemikiran filsuf Jerman itu. Pentingnya open minded dalam menyikapi setiap pendapat, ” Yovian sambil menyeruput kopi.

            “Ya, betul. Teori tersebut hanya menggambarkan fungsi agama, bukan hakikat agama itu sendiri. Agama memiliki fungsi psikologis yang memproyeksikan dambaan manusia yang mustahil kesampaian. Maka Tuhanlah yang ia proyeksikan,” sahut Asep.

            “Justru aneh jika Tuhan sebagai proyeksi dambaan tanpa mempercayai adanya Tuhan. Analoginya seperti proyeksi film tanpa ada filmnya, kan aneh.

         Obrolan semakin seru karena masing-masing memberikan pandangannya terhadap pemikiran Feurbach. Memang inilah serunya diskusi jika masing-masing memiliki pandangan yang terbuka terhadap permasalahan yang dihadirkan. Tentu argumen yang disampaikan pun berlandaskan referensi bacaan yang sudah dipersiapkan.

            “Jika Allah itu Maha baik muncul karena adanya pikiran ideal manusia terkait moralitas, maka dari mana manusia bisa menemukan kata “Maha” yang diproyeksikan kepada Allah? kata “Maha” sendiri tidak hanya mengacu pada sesuatu yang lebih, tapi merujuk pada sesuatu yang lain daripada manusia. Karena pengalaman empirik selalu terbatas, maka manusia tidak akan menemukan zat Yang Maha ini secara konkrit dan indrawi. Jadi manusia bisa beragama dan meyakini adanya Allah karena kemampuan jiwa manusia yang dapat melampaui batas-batas kemampuan empiris-indrawi. Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi transenden karena memiliki kemampuan untuk mengunifikasi hal yang immateril, demikian dalam bahasa antropologi-filosofisnya” Miftah memaparkan.

            “Memang nampak ada kesesatan berpikir dalam pendapat Feurbach, namun selalu ada hikmah dari hal paling sesat sekalipun. Ada yang bisa kita ambil nilai pelajarannya,” lanjut Yovian

            “Apa tuh?” Asep bertanya.

            “Dalam realita di lapangan terkadang manusia terkhusus tokoh agama kerap memerintahkan pengikutnya untuk melakukan suatu perbuatan atas perintah Allah, perintah agama, dengan doktrin surga yang katanya telah disiapkan bagi mereka yang patuh tanpa keluh. Padahal itu hanya klaim semata. Hal tersebut adalah proyeksi kehendak mereka untuk berkuasa dengan dalih atas perintah agama. Menjadikan agama dan Tuhan sebagai kendaraan yang mengantarkan pada tujuan licik,” Yovian melanjutkan sembari menikmati isapan rokoknya.

Di kota, jangan harap anda bisa mendengar merdunya nyanyian binatang malam. Di sini mereka sudah punah, tergantikan dengan bising kendaraan lalu lalang yang menampar telinga. Indahnya city light pun hanya bisa dilhat dari dataran tinggi seperti di Cartil atau di daerah Cilengkrang. Sudah lewat tengah malam dan menjelang subuh datang. Obrolan biasanya sudah mencapai konklusi.

“Berperang dan melukai sesama manusia dengan label jihad mengatasnamakan agama digaungkan oleh mereka yang berjubah. Aku juga heran, kok bisa gitu memerangi sesama manusia hanya karena berbeda agama dan keyakinan. Dan mereka pun tak menyerang atau pun menyakiti. Berarti ini tiada lain kebenaran menurut proyeksi pikiran mereka. Apakah benar bahwa Allah memerintahkan demikian?” tanya Asep.

“Tentu bukan begitu. Jika kita menilik fatwa Ibn Shalah, pada dasarnya orang-orang kafir harus hidup karena Allah Swt. tidak ingin menghancurkan makhluk-Nya. Bukan untuk diperangi! Pun jika diperangi, itu karena kondisi terpaksa bukan karena mereka tidak beriman. Bukan kah rosul juga pernah berpesan kepada para sahabat ketika dalam peperangan apa ya aku lupa lagi. Baginda nabi berpesan agar jangan membunuh anak-anak, wanita, orang tua yang lemah, jangan menebang pohon, merusak gereja dan hal-hal lain tanpa alasan yang jelas,Yovian menjawab dengan yakin.

“Jadi gimana nih Mif?” biasanya Miftah akan memberikan konklusi terhadap obrolan yang telah berlangsung sejak tadi.

“Pada intinya jangan memproyeksikan kepentingan nafsu atas nama agama apalagi dengan Tuhan. Jika begitu sama saja dengan para ateis. Feuerbach membunuh fungsi agama dengan kesombongan intelektualnya, apakah kita juga membunuh hakikat agama dengan nafsu kita? Orang beragama harus lebih mawas diri, dan mewaspadai laku hidup keagamaan baik dalam wilayah pribadi atau jamaah, itu adalah ajakan dan desakan. Demikian yang bisa dipetik dari pemikiran Feuerbach,” pungkas Mif dengan mantap.

Roko tinggal tersisa puntungnya, kopi hitam hanya tertinggal ampasnya, dan gorengan yang dibeli 10 ribu tinggal tersisa plastiknya. Mereka segera membereskan sisa-sisa ritual itu dan hendak bergegas pulang ke kosan masing-masing. Mif dibonceng Yovian dan Asep berjalan kaki karena kosannya dekat dari sana. Sebelum berpisah, Asep berkata.

“Gadang membicarakan Tuhan, tapi subuh kesiangan. Kade ulah kitu dak!”

“Moal, hahaha. Langsung gasss masjid. Hayu, assalamualaikum!" sahut Miftah

Waalaikumussalam.

Dari sana mereka berpisah pulang ke kosannya masing-masing. Suara tarhim dari masjid sekitar sudah terdengar mengusik telinga mereka yang masih terlelap dalam buaian mimpi. Sebagian ada yang bangun, bergegas menunaikan ritual keagamaan, atau ada juga mereka yang tak menghiraukan panggilan azan bahkan bangun hanya sekadar mematikan alarm. Ah begitulah, mereka dengan kelakuannya masing-masing. Barangkali kita juga begitu?

BACA DI SINI!


0 Komentar